Translate

Wednesday, 25 January 2017

MENENGOK KESIAPAN BIAK SEBAGAI TEMPAT PELUNCURAN SATELIT INDONESIA

MELIHAT KESIAPAN BIAK SEBAGAI TEMPAT PELUNCURAN SATELIT INDONESIA.

Biak Numfor anda tahu dimana? Betul! Pulau Biak dan Pulau Numfor berada di dekat kepala burung, di Papua bagian utara. Biak Numfor dikenal karena memiliki bandara Frans Kaisiepo yang memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia 3.750 M, yang dahulu pernah menjadi air base pasukan Jenderal Douglas McArthur. Bandara ini pernah melayani pesawat Garuda yang menerbangi jalur internasional JKT ke Los Angeles. Pesawat itu transit di Bandara Frans Kaisiepo untuk mengisi bahan bakar sebelum melakukan penerbangan antar benua ke Los Angeles.
Biak yang berasal dari kata v`iak itu adalah sebutan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pedalaman pulau. Kata tersebut sebenarnya mengandung ejekan bagi penduduk yang tinggal di hutan, yang tidak pandai kelautan, tidak pandai menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan menyeberangi lautan dan lain-lain. Nama tersebut diberikan oleh penduduk pesisir yang memang mahir dalam hal-hal kelautan. Dan akhirnya dipakai menjadi nama pulau tersebut.
 Biak menurut versi lain berasal dari ceritera rakyat, yang menceritakan bahwa suku Burdam meninggalkan Pulau Biak karena pertengkaran dengan suku Mandowen. Suku Burdam meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di tempat yang jauh. Ketika mereka berangkat, tetapi setiap kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo tampak di atas permukaan laut. Dan mereka berkata : “v`iak wer atau “v`iak! Artinya ia muncul lagi. Kata v`iak kemudian berubah menjadi Biak.

KESIAPAN BIAK SEBAGAI TEMPAT PELUNCURAN SATELIT.

 Biak juga menjadi topik pembicaraan, karena Rusia tengah menjajagi kemungkinan untuk meluncurkan satelitnya dari bandara Frans Kaisiepo. Menurut perhitungan, Biak menjadi titik terdekat di bumi ke garis orbit satelit. Rusia akan menggunakan teknik peluncuran satelit dengan membawanya di perut pesawat raksasa Antonov An-124, dan tidak menggunakan teknik konvensional peluncuran dengan menggunakan roket di darat.
Pemerintah sejak bertahun lalu menetapkan Biak di Papua sebagai lokasi peluncuran satelir di Indonesia. Lokasinya dinilai sangat ideal, terkhusus langsung berhadapan dengan Samudera Pasifik barat.
Wakil Bupati Biak Numfor, Herry Naap, mengatakan, "Kami akan memberikan dukungan terhadap kelanjutan program Biak dijadikan tempat peluncuran satelit."
Sementara itu, pejabat di Kementerian Politik, Hukum, dan HAM, Marsekal Pertama TNI Sigit Priyono, mengatakan, kunjungan mereka ke Biak untuk merevitalisasi program teknologi informasi di Kabupaten Biak Numfor.

"Biak Numfor sangat dekat dengan khatulistiwa sehingga pulau ini punya banyak keunggulan dibanding dengan daerah lain," ungkap Priyono.

Tuesday, 24 January 2017

PKR SIGMA KRI RADEN EDDY MARTADINATA BUATAN INDONESIA RESMI DISERAHKAN KE TNI AL

PENYERAHAN PKR SIGMA KRI RADEN EDDY MARTADINATA BUATAN INDONESIA KE TNI AL.

Surabaya – Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto menghadiri acara serah terima Alutsista baru berjenis Kapal Perusak Rudal (KCR)-1 KRI Raden Edi Martadinata-331 dari PT PAL kepada Menteri Pertahanan Ryamirzad Ryachudu yang diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kabaranahan Kemhan) Laksda TNI Ir. Leonardi,dengan didampingi oleh Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. M. Firmansyah Arifin serta dihadiri, Asisten Operasi (Asops) Kasal Laksda TNI I.N.G.N. Ary Atmaja, Komandan Satgas PKR, pejabat teras Mabesal dan Koarmatim, di dermaga Divisi Kapal Perang PT.PAL Indonesia, Surabaya, Senin (23/01/2017).
Pada kesempatan ini secara simbolis dilaksanakan penandatanganan naskah serah terima KRI Raden Eddy Martadinata-331 dari Dirut PT Pal Indonesia dan (Persero) Project Director PKR DSNS Jeroen waalewijn kepada Kabaranahan. Selanjutnya, Kabaranahan menyerahkan kepada TNI AL yang diterima oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksda TNI Mulyadi.

 Dalam sambutan Menhan yang dibacakan Kabaranahan menyampaikan bahwa dalam pembangunan Kapal PKR-1 Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda selaku Main Contractor melaksanakan Transfer of Technology kepada PT PAL Indonesia dalam rangka meningkatkan kemampuan PT PAL Indonesia dalam pembangunan kapal perang. Program ini dilaksanakan melalui mekanisme Joint Production dimana untuk Kapal PKR-1 Modul 1,2,4 dan 6 dikerjakan oleh PT PAL Indonesia di Indonesia, sedangkan Modul 3 dan 5 dikerjakan oleh DSNS di Belanda.

Keberhasilan program ToT ini dibuktikan dengan telah diserahkannya Kapal PKR-1 yang baru dilaksanakan, Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama yang baik dari semua pihak yang terkait serta keinginan yang kuat dan seluruh staf dijajaran DSNS dan PT PAL Indonesia untuk bisa memberikan yang terbaik bagi Bangsa dan Negara Indonesia di bidang pembangunan Kapal Perang. Semoga momentum kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara ini dapat terus ditingkatkan di masa masa mendatang.
Usai pelaksanaan serah terima Pangarmatim beserta Para pejabat terkait menerima Cinderamata dari Project Director PKR DSNS. Selanjutnya Kabaranahan beserta rombongan meninjau KRI Raden Edi Martadinata-331. -(jkgr).

“Kapal PKR itu dibangun oleh PT PAL Surabaya bekerja sama dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda. First Steel Cutting PKR-1 dilaksanakan 15 Januari 2014, sedangkan PKR-2 pada 16 Juli 2014 lalu,” ujar Kadispenal.
Pembangunan kedua kapal ini bagian dari program Transfer of Technology (ToT) dengan DSNS yang memerlukan waktu pembuatan selama 49 bulan. Sesuai master plan, PKR-1 telah di-launching Senin 18 Januari 2016, oleh Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana TNI Ade Supandi.

Kapal PKR-1 memiliki panjang 105 meter dan lebar 14 meter. Dilengkapi sistem pendorong yang mampu berlayar dengan kecepatan 28 knot bila menggunakan dua diesel engine propulsion dan kecepatan 15 knot jika menggunakan 2 electric motor propulsion.
Menurut Laksamana Pertama M Zainudin, kedua kapal akan dilengkapi sensor udara tercanggih saat ini, sehingga mampu mendeteksi sasaran di udara lebih dari 200 kilometer.
Kedua kapal juga akan memiliki persenjataan yang sangat modern dan terintregrasi dalam sistem Sensor Weapon Control (Sewaco) canggih, antara lain : meriam kaliber 76 mm dan millenium gun 35 mm, peluncur rudal anti serangan udara, rudal anti kapal permukaan, dan peluncur torpedo.

 Merujuk ke spesifikasinya, PKR SIGMA 10514 punya bobot 2.400 ton, panjang 105 meter, dan lebar 14 meter. PKR dapat membawa 120 awak, dengan fasilitas hanggar, flight deck sanggup didarati helikopter seberat 10 ton. Dari segi performance, KRI RE Martadinata 331 mampu melaju sampai kecepatan maksimum 28 knots. Kemampuan jelajahnya maksimum hingga 5.000 nautical miles (setara 9.260 km), hal ini dapat dicapau jika kapal berlayar dengan kecepatan jelajah 14 knots. Bila kecepatan ditingkatkan ke 18 knots, maka jarak jelajahnya melorot ke 4.000 nautical miles (7.408 km).

Saturday, 21 January 2017

MENGENAL DRONE OS-WIFANUSA BUATAN INDONESIA SANG PENJAGA PERBATASAN RI-MALAYSIA

MENGENAL DRONE OS-WIFANUSA DRONE AMPHIBI PERTAMA KARYA ANAK BANGSA  INDONESIA SANG PENJAGA PERBATASAN RI-MALAYSIA.


OS-Wifanusa, pesawat amphibi yang awalnya dirancang sebagai wahana transportasi alternatif di wilayah kepulauan, telah berhasil mencapai satu tahapan spektakuler.

OS-Wifanusa skala 1:3 dan 1:2 telah bermetamorfosis menjadi pesawat terbang tanpa awak (PTTA) alias drone super canggih, dan sudah mengantongi sertifikat Kelaikan Udara Miiter dan Indonesian Military Airworthiness Autority (IMAA) Kementerian Pertahanan RI, bahkan sudah resmi dimiliki oleh Kemhan sebanyak tiga set yang berjumlah enam unit PTTA tersebut.

"Kami masih menyelesaikan detail desain untuk merealisasikan OS-Wifanusa yang berpenumpang (berawak). Karena proses pembuatan pesawat berawak banyak regulasi dan persyaratan yang tentu harus kami patuhi dan ini butuh waktu yang relatif lama," ujar Yulian Paonganan, salah satu inventor drone OS-Wifanusa.  

Dia menjelaskan,  bertiga sebagai inventor dari pesawat bersama Laksamana TNI Ade Supandi dan Oky Suanandi, dibantu chief engineering Hisar Pasaribu, serta sejumlah anak bangsa yang nasionalismenya tidak diragukan lagi.

"Karya ini kami persembahkan untuk negara kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

Mereka berjibaku selama sekitar 3 tahun dalam melakukan riset pembuatan pesawat amphibi yang diberi nama OS-Wifanusa, dan akhirnya membuahkan hasil.

Ongen, panggilan akrab Yulian Paonganan, menjelaskan bahwa untuk drone yang sudah mengantongi sertifikat IMAA akan terus dimantapkan lagi, meskipun sudah dikategorikan sebagai drone canggih. "Jika perlu kita akan kengkapi dengan persenjataan," kata Ongen.

Drone OS-Wifanusa yang memiliki kemampuan amphibi itu ada dua tipe, yaitu OS-Wifanusa SL-D70 (wingspan 4.2m) dan OS-Wifanusa SL-D28 (wingspan 6.4m) dengan endurance 6 jam-8 jam dan 8 jam-10 jam. Mampu terbang autonomous dengan jangkauan telemetri mencapai 100 km dan membawa kamera canggih untuk surveillance dan pemetaan.
Setelah sebulan lebih menjalani uji kelaikan sejak  16 Juni - 31 Juli 2016, Pesawat Terbang Tanpa Awak atau Drone OS-Wifanusa secara resmi mengantongi Sertifikat Kelaikan Udara Militer dari IMAA (Indonesian Military Airworthiness Auhority) Puslaik Kementerian Pertahanan.

Penyerahan sertifikat dari IMAA dilaksanakan di Ruang Kerja Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan di Jakarta. Sertifikat diserahkan langsung oleh Kabaranahan Laksda TNI Ir. Leonardi, M.Sc. didampingi Kapuslaik Laksma TNI Sofyan kepada salah satu inventor Drone OS-Wifanusa Dr Yulian Paonganan.

"Kami sangat terharu dan bangga dengan pengakuan negara atas hasil karya kami ini dengan diterbitkannya Sertifikat Kelaikan Udara Militer dari IMAA, semoga hasil karya kami ini bisa jadi kebanggan Indonesia dan dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara" kata Ongen biasa Yulian Paonganan disapa, kepada pers, Rabu.

"Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada Menteri Pertahanan RI dan jajarannya yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk memproduksi Drone ini," ujar Ongen.

Sebelumnya diberitakan, Drone OS-Wifanusa yang mendapatkan sertifikat ada dua type yaitu OS-Wifanusa SL-D70 (wingspan 4.2mtr) dan OS-Wifanusa SL-D28 (wingspan 6.4 mtr) dengan endurance 6-8 jam dan 8-10 jam dengan payload berupa kamera surveillance canggih dan kamera pemetaan multispektran dan medium format resolusi tinggi.

Salah satu keunikan Drone OS-Wifanusa adalah take off dan landing di air dan di darat maka layak disebut sebagai Amphibious Drone. Kemampuan terbang bisa mencapai 5.000 MSL.

Drone OS-Wifanua diciptakan oleh anak bangsa secara mandiri, Inventor dari drone ini adalah Dr Y Paonganan, MSi, Laksamana TNI Ade Supandi, SE, MAP dan Oky Suanandi. Sebagai Cheif Engginering adalah Prof Dr Hisar Pasaribu, M.Sc.

KECANGGIHAN DRONE AMPHIBI PERTAMA BUATAN INDONESIA OS-WIFANUSA.

OS-Wifanusa yang diproduksi oleh PT Trimitra Wisesa Abadi diperkenalkan sebagai pesawat tanpa awak atau "drone" pertama berjenis amfibi dan memiliki kemampuan lepas landas serta mendarat di air maupun darat.

"Kondisi geografis Indonesia 'kan 70 persennya perairan, pesawat tanpa awak jenis amfibi ini dibuat terutama untuk melakukan pemantauan di wilayah perairan perbatasan dimana kita tidak perlu mencari landasan darat," ujar Programmer PT Trimetra Wisesa Abadi Yosa Rosario dalam pameran pesawat tanpa awak di Direktorat Topografi TNI AD, Jakarta, Selasa.

Pesawat dengan bentang sayap 400 centimeter, panjang 319 centimeter dan tinggi 75 centimeter ini memiliki kemampuan sistem kontrol jarak jauh mencapai 100 kilometer dan secara "real time" atau "streaming" mengirim gambar video pada ketinggian jelajah 300 meter hingga 500 meter.

OS-Wifanusa mempunyai kemampuan mumpuni untuk terbang secara auto yang dilengkapi dengan sistem navigasi dan telemetri akurat serta lama terbang hingga 8-10 jam.

Pesawat ini juga dilengkapi kamera optik untuk video, kamera gimbal untuk inframerah serta kamera multispektral untuk foto udara.

Kamera multispektral juga sangat bermanfaat untuk mendeteksi warna dan melacak target yang telah diidentifikasi ciri-cirinya.

Saat ini OS-Wifanusa telah dipesan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Direktorat Topografi TNI AD (Dittopad).

"Kemhan memesan empat unit terdiri dari dua unit penuh dan dua unit cadangan, sedangkan Dittopad pesan satu unit penuh dan satu unit cadangan untuk pemantauan di perairan Natuna. Jadi total kami sedang menggarap enam unit," kata Yosa.

Setelah melalui proses penelitian selama dua tahun, Yosa dan timnya telah melakukan uji kelayakan badan pesawat OS-Wifanusa dibantu TNI Angkatan Darat.
Kendati harus meringkuk di balik terali besi karena sikapnya yang kerap mengkritik pemerintah, Yulian Paonganan, tetap memberikan karyanya untuk NKRI. Ongen, sapaan akrab Yulian Paonganan, tengah menyelesaikan tiga drone pesanan Kementerian Pertahanan.

Drone dengan nama OS-Wifanusa ini tengah dikerjakan di workshop-nya di Bandung, Jawa Barat. Sejatinya, drone karyanya ini banyak dilirik negara luar. Namun, Ongen tetap memilih memberikan karyanya untuk bangsa Indonesia.

Salah satu staf Ongen, Adhitya Ananta mengatakan Kemenhan memesan drone atau PTTA (Pesawat Terbang Tanpa Awak) sebanyak 4 unit.

“Rencananya 2 unit untuk perbatasan dan 1 unit untuk pengawasan ZEE Natuna,” kata Adhitya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (2/2).

Adhitya menjelaskan, ada dua tipe spek drone yang dipesan oleh Kemenhan. Pertama, kata dia, untuk perbatasan memiliki benteng sayap 4,2 meter dan untuk ZEE Natuna 6.4 meter. Drone itu akan membawa payload kamera thermal video untuk surveillance. Kemudian, kamera medium format 80MP dan kamera multispektral untuk pemetaan.

"Kecanggihan lain dari drone ini adalah mampu take off dan landing di darat maupun di air," ungkapnya.

"Drone ini juga sudah dapat sertifikat uji litbang TNI AL dan sertifkat TKDN 28.01% dari Kemenperin," tegasnya.

Diketahui Ongen telah melakukan riset untuk membuat Drone dengan nama OS-Wifanusa ini selama hampir 1,5 tahun. Riset pembutan flying boat ini dengan membuat prototipe skala 1:3 yang berhasil terbang sempurna, dan sekarang memasuki proses pembuatan skala 1:1 yang nantinya bisa diawaki 4 orang.

Sebelumnya, Kadis Litbangal Laksma TNI Ir Fedhy E Wiyana beserta tim uji dari Mabes TNI AL dan Mabes TNI, menilai uji coba OS-Wifanusa berlangsung sukses.

“Kita patut berbangga atas karya anak bangsa ini, pesawat jenis ini sangat cocok dengan kondisi wilayah NKRI yang di dominasi lautan, semoga ke depan bisa dikembangkan untuk digunakan dalam menunjang berbagai aktivitas maritim, baik sipil maupun militer,” kata Fedhy.

Terkait dengan drone yang dipesan oleh Kemenhan, Ongen mendapat pujian dari pengguna media sosial. Bahkan, hasthag #DroneOngenKeren bisa tembus menjadi Trending Topic Indonesia.

Mereka pun mengaitkan jika penahanan Ongen atas dugaan pelanggaran UU ITE dan UU Pornografi terkait dengan ide besarnya soal drone.

“Anak bangsa yg punya keahlian & di akui #DroneOngenKeren dibui, manusia penjilat kaya penjol dan boni malah dikasih jabatan.#DroneOngenKeren,” tulis akun di Twitter.

Akun lain bahkan menyebut jika penahanan Ongen ada kaitannya dengan Amerika Serikat. “Gua curiga ditangkapnya Ongen adalah atas perintah AS, supaya temuan Drone-nya tdk berkembang dan mati"


PENJAGA PERBATASAN RI-MALAYSIA.

Demi menjaga wilayah perbatasan Indonesia, pihak Indonesia Maritime Institute (IMI) sedang menyiapkan Pesawat Terbang Tanpa Awak (UAV) type flyingboat yang diberi nama OS-Wifanusa yang dirancang khusus untuk pengawasan wilayah perbatasan baik darat maupun laut.
Direktur Eksekutif IMI sekaligus inisator, Dr Y Paonganan mengatakan, UAV tersebut didesain agar memudahkan pengoperasian di wilayah perbatasan ‎yang kondisnya relatif sulit jika menggunakan jenis UAV fix wing yang butuh landasan lebih dari 200 meter.
"UAV OS-Wifanusa didesain mampu lepas landas baik di sungai, danau, laut maupun daratan," kata Paonganan dalam keterangan persnya, di Jakarta.


Ongen biasa disapa menjelaskan, untuk lepas landas di air (sungai, danau dan laut) UAV ini hanya butuh panjang landasan 50 meter untuk lepas landas, sementara di darat hanya butuh 30 meter pada tanah rata untuk bisa lepas landas.
"Ketinggian jelajah minimum 300 meter dan maksimum 5000 meter dengan durasi terbang bisa mencapai 5 jam," katanya.
Doktor lulusan IPB itu menegaskan bahwa sistem UAV tersebut dirancang sendiri oleh tim dari IMI, antara lain memiliki kemampuan kontrol kendali terbang sejauh 100 km untuk ketinggian terbang 300 meter dan semakin tinggi akan semakin jauh jangkauanannya menerima real time video," tegasnya.
UAV juga dilengkapi dengan Mobile Ground Control Station‎ (MGCS) dilengkapi antena helical setinggi 6 meter dan monitor control system untuk memonitor UAV selama penerbangan. "UAV ini juga akan dilengkapi LIDAR system untuk keperluan foto udara dan pemetaan," terangnya.
Desain pesawat ini sampai proses produksi, UAV system, landing gear system dan propeller adalah buatan‎ anak bangsa yang tergabung di Indonesia Maritime Institute (IMI). "Kecuali beberapa komponen elektronik dan mesin yang masih kita import dan direncanakan akan kami buat sendiri," tandas Ongen.

#DroneOngenKeren.

Friday, 20 January 2017

PERBANDINGAN KEUNGGULAN PESAWAT ANGKUT BERAT A400M, AN-70, DAN C-17 MANAKAH YANG SEBENARNYA PALING COCOK UNTUK INDONESIA?

PERBANDINGAN KEUNGGULAN PESAWAT JENIS ANGKUT BERAT ANTARA AIRBUS A400M, ANTONOV AN-70, DAN C-17. MANAKAN PESAWAT YANG PALING COCOK UNTUK MENGGANTI C-130 INDONESIA?

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana mengganti pesawat angkut berat Hercules C-130 yang sudah usang dengan pesawat jenis baru. Akhir-akhir ini mengemuka kabar bahwa Indonesia akan membeli 5 unit pesawat Angkut Berat jenis Airbus A400M dengan nilai mencapai $2 miliar untuk menggantikan armada lama yakni Hercules C-130. Sebenarnya TNI AU telah memiliki beberapa opsi pengganti pesawat C-130, berikut perbandingannya:

1. Airbus A400M Atlas.

Pesawat Airbus A400M merupakan pesawat kelas angkut berat pilihan TNI AU.
Airbus A400M adalah sebuah pesawat transpor militer bermesin empat turboprop. Pesawat ini dirancang oleh divisi militer Airbus untuk mengganti atau melengkapi pesawat yang digunakan dalam peran angkutan udara taktis Pesawat Airbus A400M ini awalnya dipesan oleh 9 (sembilan) negara; Namun kemudian pesanan dari Afrika Selatan dibatalkan pada bulan November 2009. Terbang perdana pesawat ini, mulanya direncanakan awal tahun 2008, dilaksanakan pada 11 Desember 2009.
Airbus A400M adalah pesawat Angkut militer bermesin empat turboprop, yang dalam pembuatannya telah banyak menghabiskan dana, sehingga melampaui anggaran pembuatannya yang hanya beberapa miliar dollar AS. Namun, pesawat ini melakukan penerbangan uji coba perdana di Sevilla, Spanyol pada Jumat 11/12/2009. Pesawat ini dirancang oleh divisi militer Airbus untuk mengganti atau melengkapi pesawat yang digunakan dalam peran angkutan udara taktis.
Biaya pembuatan pesawat raksasa berwarna abu-abu ini menghabiskan 20 miliar euro atau 5 miliar euro lebih besar dari rencana sebelumnya. Penyelesaiannya juga tiga tahun lebih lambat dari jadwal. Pembuatan A400M pertama kali disetujui oleh anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yaitu Jerman, Spanyol, Perancis, Britania Raya, Turki, Belgia, dan Luksenburg. A400M, yang berharga 100 juta dollar AS, dapat terbang setinggi 12.000 meter serta dapat mendarat di landasan pendek dan tidak mulus. Baling-balingnya memiliki kekuatan 11.000 tenaga kuda dan merupakan mesin yang paling kuat yang dibuat di luar Rusia. Akan tetapi, pengiriman pertama tertunda setidaknya hingga awal tahun 2013. Perancis dan Jerman telah memberikan waktu kepada Airbus hingga akhir tahun ini untuk membuktikan bahwa proyek A400M masih dapat dilanjutkan. Britania juga mengalihkan pesanannya ke AS dan berkeras akan menegosiasikan kembali kontraknya. EADS telah mengeluarkan dana sebesar 2,4 miliar euro untuk menutupi kerugian pada proyek A400M ini. Jumlah itu belum termasuk biaya pembuatan pesawat baru. Fabrice Bregier, salah seorang anggota dewan eksekutif EADS, mengatakan bahwa kelompok negara NATO tersebut sepakat untuk menerima harga yang lebih tinggi, tetapi dia berharap ada kontrak baru dari pembeli yang disepakati pada akhir tahun 2009.

KEUNGGULAN A400M.

Keunggulan pesawat militer yang telah diluncurkan pada 2003 ini adalah dapat mendarat di landasan berjarak yang pendek. Adapun negara-negara yang sudah menggunakan pesawat ini antara lain, Malaysia, Turki, Mali, dan Prancis.
Airbus A400M AtlasPabrik: Airbus Military (Spanyol dan Perancis)
Harga: sekitar Rp 2,6 triliun
Dimensi:
• Panjang 45,1 meter
• Tinggi 14,7 meter
• Rentang sayap 42,4 meter
Mesin: Empat mesin baling-baling Europrop TP400-D6
Kecepatan: 780 kilometer per jam
Jangkauan terbang: 3.000-6.000 kilometer
Daya Angkut:
• Sekitar 116 pasukan bersenjata lengkap.
• Sekitar 66 tandu pasien beserta 25 personel medis.
• Beban angkut sekitar 37 ton.
 
2. Antonov AN-70.

 Antonov An-70 adalah Pesawat angkut jarak menengah sayap tinggi (high wing) empat mesin, dan pesawat besar pertama yang didukung oleh mesin propfan. Hal ini sedang dikembangkan oleh biro desain Antonov Ukraina untuk menggantikan pesawat angkut militer usang An-12.
Penerbangan perdana prototipe pertama terjadi pada tanggal 16 Desember 1994 di Kyiv (Kiev).

Spesifikasi (An-70) 
Karekteristik Umum
  • Kru: 4 (Dua pilot, navigator dan insinyur penerbangan)
  • Kapasitas: 300 tentara atau 206 kasus tandu [28]
  • Payload : 47,000 kg (103.620 £) kargo
  • Panjang: 40,7 m (133 ft 6 in)
  • Lebar sayap : 44.06 m (144 ft 7 in)
  • Tinggi: 16.38 m (53 ft 9 in)
  • Berat kosong : 66.230 kg (£ 146,000)
  • Max. berat lepas landas : 145.000 kg (319.670 £)
  • Powerplant : 4 × Progress D-27 propfans , 10.350 kW (13.880 hp) masing-masing
Prestasi
  • Kecepatan maksimum : 780 km / h (421 knot, 485 mph)
  • Cruise speed : 750 km / h (405 knot, 466 mph)
  • Kecepatan Stall : 113 km / jam (61 knot, 70 mph)
  • Rentang : 6.600 km atau 5.000 km (3.564 nm atau 2.700 nm) dengan 20 atau 35 ton kargo
  • Layanan langit-langit : 12.000 m (39.370 kaki)
  • Tingkat panjat : 24,9 m / s (81,7 ft / s)

3. Boeing C-17 Globemaster III.

 C-17 Globemaster III adalah sebuah pesawat angkut militer yang dikembangkan oleh Militer Amerika Serikat bersama dengan Boeing Integreted Defence System, awal mula pengembangan dilakukan dari tahun 1980 sampai dengan awal 1990 bersama dengan McDonnel Douglas (sekarang McDonnel Douglas telah bergabung dengan Boeing) dan dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Angkatan Udara Britania Raya dan Angkatan Udara Australia. Pesawat ini telah juga dipilih oleh Militer Kanada dan direncanakan untuk dikirim pada 2007.[3] NATO juga berencana untuk memesan pesawat angkut jenis ini. C-17 mengambil bentuk nama yang sama dari dua pesawat angkut berat pendahulunya yaitu C-74 Globemaster dan C-124 Globemaster II.
 Dengan sebuah kargo berukuran 26,82m x 5,48m x 3,76m, pesawat mampu membawa sampai 18 "cargo pallets", 144 prajurit, 102 prajurit parasut, atau 48 "litters". Dengan kapasitas ini, C-17 mampu mengangkut hamper semua peralatan "mobile" tentara US termasuk tank perang utama M1 Abrams, M2/M3 Bradley, sampai 4 helikopter transport UH-60 Blackhawk atau sampai 2 helikopter serang AH-64 Apache. Sebagai tambahan, C-17 menggunakan "blown flaps", generator vortex dan "thrust reversers" (tenaga dorong kebalikan) untuk pendaratan jarak pendek. C-17 dapat beroperasi pada landasan sepanjang 915 m dengan lebar 27,5 m dan dapat bermanuver untuk membelok menggunakan "a three-point turn".

Sistem kontrol penerbangan otomatis ditingkatkan dengan BAE Systems CsLEOS sistem operasi real-time bersertifikat untuk GATM (manajemen lalu lintas udara global) persyaratan sistem.

AN/AAR-47 memiliki suite sensor thermal permukaan-mount di sekitar pesawat terbang, yang mendeteksi tanda tangan termal dari rudal knalpot membanggakan. Pemilihan frekuensi dan sinyal teknik pengolahan yang digunakan untuk meminimalkan tingkat alarm palsu.
Sistem ini memberikan peringatan kepada kru melalui unit indikator kokpit kehadiran dan arah ancaman rudal. Sebuah sinyal secara otomatis dikirim ke ALE-47 dispenser.

AN/ALE-47 mampu membawa campuran penanggulangan dibuang, termasuk jammers. Interface sistem untuk sensor pesawat C-17 itu.Aircrew dapat memilih mode operasi dari dispenser untuk operasi sepenuhnya otomatis, semi-otomatis atau manual.

- Kecepatan jelajah: 830 km/h
-Rentang sayap: 52 m
-Jarak tempuh: 10.390 km
-Panjang: 53 m
-Berat: 128.100 kg
-Biaya per unit: 200.000.000–220.000.000 USD (2010)
-Pembuat: McDonnell Douglas, Boeing Integrated Defense Systems

Dari beberapa perbandingan diatas kita bisa mengetahui pesawat mana yang paling cocok untuk Indonesia, apapun pilihannya semoga akan menjadikan Indonesia semakin unggul. Jayalah Indonesiaku...

Tuesday, 17 January 2017

KRI IRIAN, KAPAL PERANG LEGENDARIS TNI AL YANG CANGGIH PADA MASANYA.

KRI IRIAN, KAPAL PERANG TNI ANGKATAN LAUT YANG CANGGIH PADA MASANYA..

Apakah anda tahu? bahwa pada masa pasca perang kemerdekaan, ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia. Sekarang TNI-AL) pernah ditakuti oleh sekutu dan Angkatan Laut Kerajaan Belanda? Pada saat itu ALRI memiliki sebuah kapal perang tercanggih pada masanya, yaitu KRI Irian. Sebuah kapal buatan Uni Sovyet dengan daya tempur yang tak main-main.



TENTANG KRI IRIAN.

KRI Irian sebelumnya adalah kapal Ordzhonikidze (Object 055, diambil dari nama Menteri Industri Berat era Stalin, Grigory “Sergo” Ordzhonikidze) dari Armada Baltik AL Soviet, kemudian dibeli oleh pemerintah Indonesia tahun 1962. Saat itu KRI Irian adalah kapal terbesar di belahan bumi selatan. Setelah dibeli dari Uni Sovyet, kapal ini digunakan secara aktif untuk persiapan merebut Irian Barat.
KRI Irian adalah kapal penjelajah kelas Sverdlov dengan kode penamaan Project 68-bis. Kapal jenis ini adalah kapal penjelajah konvensional terakhir yang dibuat untuk AL Soviet, 13 kapal diselesaikan sebelum Nikita Khruschev menghentikan program ini karena kapal jenis ini dianggap kuno dengan munculnya rudal (peluru kendali). Kapal ini adalah versi pengembangan dari kapal penjelajah kelas Chapayev.
Kapal ini dibuat di Admiralty Yard, Leningrad. Peletakan lunas pertama dilakukan tanggal 9 Oktober 1949, diluncurkan tanggal 17 September 1950, dan pertama kali dioperasikan tanggal 30 Juni 1952.

KRI Irian memiliki panjang sekitar 210 meter (permukaan dek) dan 205 meter di garis bawah air. Artileri laut berupa meriam kanon kaliber 5.9 Inchi lebih dari cukup untuk merontokkan armada Hr Ms Karel Dorman. Belum lagi ditambahkan dengan persenjataan anti serangan udara berupa kanon 30 mm dan meriam udara kaliber 37 mm. Untuk mengantisipasi serangan kapal selam, KRI Irian sudah dibekali 10 buah meriam kaliber 533 mm (anti submarine gun tube).
KRI Irian tiba di Surabaya pada 5 Agustus 1962 dan dinyatakan keluar dari kedinasan AL Soviet pada 24 Januari 1963. Sebelumnya Uni Soviet tidak pernah menjual kapal dengan bobot seberat ini kepada negara lain kecuali kepada Indonesia. ALRI yang belum pernah mempunyai armada sendiri sebelumnya, belajar untuk mengoperasikan kapal-kapal canggih dan mahal ini dengan cara trial and error.
Bulan November 1962 tercatat sebuah mesin diesel kapal selam rusak karena benturan hidrolis saat naik ke permukaan, sebuah destroyer rusak dan 3 dari 6 boiler KRI Irian rusak. Suhu yang panas dan kelembapan tinggi berefek negatif terhadap armada ALRI, akibatnya banyak peralatan yang tidak bisa digunakan dengan maksimal.
Pada 1964 KRI Irian sudah benar-benar kehilangan efisiensi operasionalnya dan akhirnya dikirim ke Vladivostok untuk perbaikan. Bulan Maret 1964, KRI Irian sampai di Pabrik Dalzavod. Para pelaut dan teknisi Soviet terkejut melihat kondisi kapal ini karena perbaikan kecil yang seharusnya sudah dilakukan oleh para awak kapal ternyata tidak dilakukan. Mereka juga tertarik dengan sedikit modifikasi yang dilakukan ALRI yaitu mengubah ruang pakaian menjadi ruang ibadah/musholla (sesuatu yang tentu tidak mungkin terjadi di Uni Soviet sebagai negara komunis).
Setelah perbaikan selesai pada bulan Agustus 1964 kapal kembali berlayar ke Surabaya dengan dikawal oleh destroyer AL Uni Sovyet. Setahun kemudian (1965), terjadi pergantian pemerintahan. Kekuasaan pemerintah praktis berada di tangan Presiden Soeharto. Perhatian Soeharto terhadap ALRI sangat berbeda dibandingkan Sukarno.

FAKTA SEJARAH.

Dalam sejarah, memang KRI Irian belum pernah terlibat dalam perang secara langsung. Namun sejarah mencatat, ketika KRI Irian masuk ke perairan Irian tanggal 5 Agustus 1962, kapal induk Kerajaan Belanda Hr.Ms. Karel Doorman segera diperintahkan untuk menyingkir dari perairan NKRI guna menghindari kontak langsung dengan KRI Irian. Walau tak terlibat kontak senjata, kehadiran KRI Irian memberikan dampak politik cukup luas. Tak lama setelah kejadian itu, Amerika Serikat memaksa Kerajaan Belanda utuk segera pergi dari NKRI dan melakukan perundingan dengan Pemerintah Indonesia 15 Agustus 1962.

AKHIR KISAH SANG MACAN LAUT.

Terdapat beberapa versi tentang riwayat KRI Irian setelah peristiwa G30S:
  • Versi pertama menyebutkan bahwa tahun 1970, KRI Irian sudah sedemikian parah keadaannya hingga sedikit demi sedikit mulai dibanjiri air.  Dan pada masa Laksamana Sudomo menjabat sebagai KSAL, maka KRI Irian dibesituakan (scrap) di Taiwan pada tahun 1972 dengan alasan kekurangan komponen suku cadang kronis.
  • Versi kedua, menurut Hendro Subroto, kapal perang yang dibuat hanya empat buah ini dijual ke Jepang setelah persenjataannya dipreteli.
  • Versi ketiga menyebutkan bahwa ketika dibawa untuk dibesituakan, di tengah perjalanan KRI Irian dicegat oleh kapal Uni Sovyet. Uni Soviet hanya menjual penjelajah ringan kelas Sverdlov kepada dua negara, yaitu Indonesia (1962) dan India (1989–scrap). Ada dugaan bahwa pihak yang paling tidak menginginkan apabila kelas Sverdlov jatuh ke tangan pihak Barat adalah Uni Soviet.
  • Versi keempat ada kemungkinan Uni Soviet mencegat kapal tersebut dan kemudian mengambil alih dengan kesepakatan, bisa jadi dengan mengurangi sejumlah hutang pembelian senjata yang belum dilunasi atau bisa jadi dengan melunaskannya. Dari ke-4 buah itu, hanya KRI Irian (Ordzhonikidze/Object 055) yang keberadaannya masih misterius.
MISTERI 'HILANGNYA' KRI IRIAN.


Kapal dengan nomor lambung 201 ini adalah kapal terbesar di kawasan Asia dan belahan dunia bagian selatan. KRI Irian mampu menggetarkan Belanda yang saat itu memiliki Kapal Induk karel Doorman dalam situasi panas memperebutkan Irian Barat/Papua.

KRI Irian didatangkan oleh Presiden Soekarno untuk menghadapi Belanda. Berawal dari upaya modernisasi alusista TNI yang dirintis Mayjen A.H. Nasution yang kala itu adalah Menko Hankam/Kasab sejak 1957.

Kala itu, tim TNI menyambangi Amerika Serikat untuk mengajukan pinjaman untuk membeli alutsista, tapi tidak mendapat tanggapan. Kemudian, tim melanjutkan pencarian ke Moskow dengan maksud yang sama, dan proposal disetujui.

Pada awal 1960, Nkita Kruschev mengunjungi Jakarta dan menyetujui perjanjian pembelian alutsista dari Uni Soviet atas dasar kredit jangka panjang.

KRI Irian merupakan kapal penjelajah ordzhonikidze dari armada Baltik milik AL Uni Soviet yang dibeli Pemerintah Indonesia pada 1962. Dalam sejarah militer Soviet, tidak pernah mereka menjual kapal dengan bobot seberat ini kepada negara lain kecuali kepada Indonesia.

Senjata utama dari KRI Irian adalah 4 buah turret/kubah, dimana setiap kubah berisi 3 meriam kaliber 6 inci/152 mm. Sehingga total ada 12 meriam kaliber 6 inci di geladaknya.

10 tabung torpedo antikapal selam kaliber 533 mm
12 buah meriam kapal B-38/L57 kaliber 152 mm (6 di depan, 6 di belakang)
12 buah meriam Model 1934/L56 kaliber 100 mm, ditempatkan dalam 6 kubah SM-5-1 (2 meriam per 1 kubah)
32 buah meriam multifungsi kaliber 37 mm
4 buah triple gun Mk5-bis kaliber 20 mm (untuk keperluan antiserangan udara)

Perlengkapan radar dari KRI Irian adalah:
1x radar penjejak udara Big Net atau Top Trough

1x radar penjejak udara High Sieve atau Low Sieve
1x radar penjejak udara Knife Rest
1x radar penjejak udara Slim Net
1x radar navigasi Don-2 atau Neptune
2x radar pengatur penembakan senjata Sun Visor
2x radar pengatur penembakan meriam kapal B-38, Top Bow
8x radar pengatur penembakan senjata Egg Cup
2x sistem jamming elektronik Watch Dog

 TENAGA PENGGERAK.

Sebegai tenaga penggerak, KRI irian mengandalkan 2 buah turbin uap TB-72 yang mendapat pasokan uap dari 6 buah ketel KV-68 dan disalurkan melalui 2 buah shaft. Tenaga total yang dihasilkan adalah @110.000 HP sampai 122.000 HP pada kedua shaft, tenaga ini mampu membuat kapal seberat 13.600 ton ini mencapai kecepatan maksimal 32,5 knot. Sedangkan jarak maksimal yang bisa ditempuh adalah 9000 mil laut dengan kecepatan konstan 18 knot.
Pada 1964, Kapal Penjelajahan sudah benar-benar kehilanngan efisiensi operasionalnya dan diputuskan untuk mengirim KRI Irian ke Galangan Kapal Vladivostok untuk perbaikan. Pada Maret 1964 KRI Irian sampai di Pabrik Dalzavod. Setelah perbaikan selesai, pada Agustus 1964, kapal menuju Surabaya dengan dikawal destroyer AL Soviet.

Setahun kemudian (1965), terjadi pergantian pemerintahan. Kekuasaan pemerintah praktis berada di tangan Soeharto. Perhatian Soeharto terhadap ALRI sangat berbeda dibandingkan Soekarno. Kapal ini dibiarkan terbengkalai di Surabaya, bahkan terkadang digunakan sebagai penjara bagi lawan politik Soeharto.

Kondisi kapal diperparah dengan embargo militer dari Uni Sovyet yang tidak searah dengan garis politik Soeharto yang pro barat dan anti komunis. Pada 1970, kapal ini mulai terisi air. Tidak ada orang yang peduli untuk menyelamatkan kapal penjelajah ini.

KRI Irian Jaya menghilang secara misterius. Isu yang beredar mengatakan kapal ini rencananya akan dibesituakan di Taiwan, namun kenyataannya kapal ini tak pernah ada di Taiwan. Pendapat lain mengatakan perjalanan KRI Irian dicegat oleh kapal Uni Soviet. Hingga kini, KRI Irian (Ordzhonikidze/Object 055) kapal perang paling besar yang pernah dimiliki TNI ini keberadaannya masih misterius.


KRU KAPAL.

Perwira yang pernah bertugas di atas KRI Irian adalah:
  1. Mantan Panglima TNI dan Menkopulhukam di Kabinet Indonesia Bersatu, Laksamana (Purn.) Widodo AS yang saat itu menjabat sebagai Perwira Senjata pada tahun 1964.
  2. Dr. Kartono Mohamad, kakak kandung dari Goenawan Mohamad, pendiri Majalah Tempo. Dia dokter definitif memang untuk kapal perang ini. Ia pernah menjadi dokter di kapal penjelajah RI Irian 201 semasa bertugas di TNI AL (1964-1975).
  3. Dr. Tirmizi Taher mantan Menteri Agama di Kabinet Pembangunan VI, sebagai Perwira Kesehatan Sementara saat Paduka Yang Mulia Presiden RI Dr. Ir. H. Sukarno dalam perjalanan dari Jawa ke Makassar di KRI Irian.
  4. Semua kelasi dan perwira yang berjasa sejak pendidikan di Rusia sejak pemberangkatan dari Surabaya menuju Rusia di Sevastopol hingga kembali ke tanah air baik yang menggunakan atau mengoperasikan kapal perang ini maupun yang kembali ke tanah air dengan kereta api Trans Benua Asia. Hingga kapal penjelajah ini selamat sampai tujuan di Indonesia. Mereka semua pahlawan pejuang kemerdekaan yang tidak dapat disebut satu persatu dan mereka memiliki jiwa pejuang untuk berjuang demi bangsa dan negara Indonesia secara keep silent (operasi rahasia) untuk ALRI dan gugur dengan keep silent pula. Tidak banyak diceritakan oleh mereka sebab mereka memahami bahwa dipundaknya para kru kapal penjelajah adalah hidup untuk mati demi kejayaan bangsa dan negara. Biarlah kejayaan Armada Laut Pejuang Samudera ALRI cukup mereka nikmati saat itu.

Monday, 16 January 2017

MENGENAL ANOA 2 AMPHIBIOUS YANG TELAH DI UJI COBA PRESIDEN JOKOWI BESERTA KECANGGIHANNYA

MENGENAL ANOA 2 AMPHIBIOUS YANG DI UJI COBA LANGSUNG OLEH PRESIDEN BESERTA KECANGGIHAN DARI PANSER BUATAN DALAM NEGERI TERSEBUT.

Berkecamuknya konflik Rusia vs Ukraina di tahun 2013 – 2014 berdampak pada pembatalan pembelian 50 unit pansam (panser amfibi) BTR-4 untuk Korps Marinir TNI AL. Padahal BTR-4 sudah dimasukkan dalam paket pengadaan strategis MEF (Minimum Essential Force) I TNI. Di tempat berbeda, PT Pindad menangkap peluang kebutuhan hadirnya pansam di lingkup TNI dengan merilis Anoa 2 6×6 Amphibious.
 Meski masih dalam tahap prototipe dan kabarnya terus disempurnakan, hadirnya Anoa 2 6×6 Amphibious cukup membetot khayalak, pasalnya berangkat dari platform APC (Armoured Personnel Carrier) Anoa 6×6, tercipta ranpur amfibi yang mampu melaju lincah tak hanya di darat tapi juga cakap bermanuver di air, bahkan ranpur ini juga disasar mampu berenang di laut.
 Untuk bisa berlaga amfibi seperti halnya pansam BTR-80A, sudah barang tentu Anoa perlu dilakukan sejumlah modifikasi, dari sisi bodi sudah ada perbedaan dibanding Anoa versi awal, ambil contoh tampilan bagian depan (hidung) yang dibuat lebih mancung, menyerupai desain ujung kapal, plus dilengkapi plat pemecah/penahan gelombang dan ombak. Tidak itu saja, penutup (hatch) pada komandan, sopir, dan dua gunner dibekalang dibuat cembung, mungkin tujuannya untuk memperkuat daya kedap.
 Namun penekanan kata ‘amphibious’ terletak pada pemasangan water propeller yang berukuran besar di bagian belakang. Dengan water propeller ini panser dapat melaju lebih cepat dan dapat berputar 360 derajat. Bahkan panser di air dapat mundur dan mengerem. Kemampuan ini sudah dibuktikan dihadapan Menhan Ryamizard Ryacudu, dan telah diuji di kawasan waduk Jatiluhur, Jawa Barat 3 Desember 2015 lalu.


Anoa Amphibious diciptakan agar panser untuk TNI bisa kokoh di darat, juga tangguh di laut. Pembuatan panser ini untuk menjawab kebutuhan tentara yang menginginkan kendaraan khusus seperti itu. Progres pembuatan prototipe Anoa Amphibious masih dalam tahap uji internal yang dimaksimalkan. Uji ngambang, tes maju di air (maju, mundur, ngerem), berputar 360 derajat. Belum lagi uji ketahanan terhadap ombaknya, hingga kedalaman berapa bisa bertahan, medan apa saja yang bisa dilalui, dan lain-lain.
Untuk bisa diluncurkan resmi, masih ada beberapa tahapan lagi yang harus dilalui. Pindad harus mendaftarkan sertifikasinya ke divisi penelitian dan pengembangan angkatan darat. Di situ dibentuk tim yang di dalamnya ada tim uji bidang peralatan, alat komunikasi, kemampuan khusus dan lain-lain. Bahkan jika kelak Anoa 2 6×6 Amphibious akan ditawarkan untuk Marinir TNI AL, maka besar kemungkinan Anoa harus mendapat sertifikasi dari Dislitbangal.
 Dengan baling-baling yang agak besar, Anoa Amphibious memiliki kecepatan 10 knot atau 18,52 km per jam. Sebagai pelindung komponen water propeller, dibuat semacam roll bar pada bagian atasnya, roll bar ini juga dapat difungsikan untuk tempat mengikat perbekalan. Desain Anoa yang mengacu ke rancangan panser VAB dari Renault Perancis, sejatinya memang punya kemampuan amfibi terbatas, seperti halnya VAB, Anoa APC Pindad juga pernah dipamerkan dengan dilengkapi dua unit mini propeller.
 Yang berkaitan dengan propeller untuk Anoa sampai saat ini masih di impor, termasuk juga mesin yang masih dipasok vendor lain. Berat panser ini dengan disertai peralatan lengkap tanpa orang sekitar 12 ton. Harga jualnya belum keluar. Namun, jika melihat harga jual Anoa standar saja sekitar Rp12 miliar per unit.

KECANGGIHAN PANSER ANOA-2 AMPHIBIOUS BUATAN PT PINDAD.


Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose, mengatakan panser Anoa merupakan kendaraan yang ramah pengguna (user friendly).
Panser produksi PT Pindad itu merupakan pengembangan lebih lanjut dari kendaraan tempur 6x6.
Saat menghadiri Rapat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (16/1/2017), Presiden Joko Widodo menaiki panser Anoa Amphibi dari Gerbang Uutama Delta II menuju Danau Mabes TNI.
Presiden Jokowi tampak didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Panser Anoa Amphibi yang ditumpangi Presiden selanjutnya melintasi Danau Mabes TNI menuju Gedung Aula Gatot Subroto tempat pelaksanaan Rapim TNI Tahun 2017.
"Bapak Presiden dan Panglima TNI telah membuktikan sendiri keandalan produk dalam negeri yang user friendly bagi berbagai lapisan pengguna di TNI," ujar Abraham di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
Panser Anoa tersebut mampu mengangkut 12 orang dan bermanuver di air dengan kecepatan 10 knot.
Sementara, ketika berada di darat, Panser Anoa mampu melaju 80-100 km/jam.
Panser itu juga dilapisi bahan armor anti-peluru, mulai dari bagian badan kendaraan hingga kaca jendelanya.

Anoa Amphibious merupakan pengembangan lebih lanjut dari kendaraan tempur 6x6 produksi awak Pindad. Direktur Utama Pindad, Abraham Mose, menyampaikan apresiasi terhadap delegasi VVIP yang menjadi penumpang Anoa Amphibious tersebut.

"Bapak Presiden dan Panglima TNI beserta para Kepala Staf Angkatan telah membukitkan sendiri keandalan produk anak negeri yang juga dikemudikan oleh prajurit Korps Wanita AD. Hal ini menunjukkan produk Pindad yang user-friendly bagi berbagai lapisan pengguna di TNI," ujar Abraham.
Panser Amphibious adalah produk hasil penelitian dan pengembangan anak bangsa yang dibuat dengan memperhatikan kondisi geografis serta kontur bumi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan seperti sungai dan danau.
Abraham menambahkann untuk mendukung performa para personil TNI dalam berpatroli di segala medan dan cuaca, dibutuhkan kendaraan yang dapat memberikan kemudahan mobilisasi sebaik mungkin.
Untuk itu, Panser Amphibious didesain untuk bisa melintasi wilayah NKRI khususnya di daerah pedalaman yang medannya sangat berat dan yang belum di tunjang oleh infrastruktur yang memadai seperti jalan dan jembatan, sehingga kendaraan harus bisa melintasi sungai dan danau.
“Panser Amphibious dilengkapi propulsi dengan sistem hidrolik yang mampu bermanuver secara maksimal di air, dengan kecepatan 10 km/jam dan mampu membawa 10 orang personil," tambah Abraham.
Saat ini, untuk memastikan kelaikan dalam penggunaan di lapangan, Panser Amphibious Pindad sudah siap melalui proses sertifikasi. Dengan Kapasitas produksi 80 unit per tahun, saat ini fasilitas produksi Pindad sudah siap untuk melakukan produksi varian terbaru Panser Anoa.

HARI INI PANSER ANOA-2 DI UJI COBA LANGSUNG OLEH PRESIDEN JOKO WIDODO.

Presiden Joko Widodo mengakui sempat merasa deg-degan saat menaiki Panser Anoa Amphibi buatan PT Pindad.
Jokowi menaiki kendaraan taktis itu saat menghadiri rapat pimpinan Tentara Nasional Indonesia di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (16/1/2017).
Panser Anoa Amphibi dikendarai oleh dua prajurit wanita TNI AD atas nama Serda (K) Lutfiah dan Serda (K) Melysa Situmorang dengan rute dari gerbang utama Delta II menuju danau Mabes TNI
Semula jalur yang ditempuh adalah jalur darat. Namun selanjutnya, Tank Amphibi itu melintasi air di danau. Saat itu lah, Jokowi merasa deg-degan.
Bahkan, Jokowi mengatakan, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, tiga kepala staf angkatan, serta Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian yang mendampinginya naik Tank Amphibi itu juga merasakan hal serupa.
"Tadi semuanya juga deg-degan," ucap Jokowi.
Kendati demikian, Jokowi tetap yakin dengan kemampuan alutsista buatan dalam negeri tersebut.
Ia meyakini produk-produk militer buatan Indonesia tidak kalah dengan bikinan luar negeri.
"Anoa Amphibi bagus sekali, Tank bisa masuk air, kan bagus. Masuk ke air tenang sekali dan juga ke darat lagi," ucap Jokowi
Setelah turun dari Panser, Presiden Jokowi memberi hormat kepada Serda (K) Lutfiah dan Serda (K) Melysa Situmorang.
"Setelah turun dari Panser Pak Presiden mengucapkan terima kasih karena kegiatan lancar dan aman," ujar Serda Melysa.
Serda Melysa dan Serda Lutfiah saat ini bertugas di Pussenif Kodiklat TNI AD di Bandung.
Selama dua minggu mereka harus menjalani pelatihan khusus sebelum menerima tugas sebagai awak panser Anoa. "Kehadiran Bapak Presiden di Anoa Amphibious merupakan pesan kuat bahwa industri alutsista dalam negeri sudah mampu menghadirkan kendaraan tempur amphibi, yang perlu kita dukung untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan," ujar Jenderal Gatot Nurmantyo, Senin (16/1/2017).



































Saturday, 14 January 2017

PESAWAT TEMPUR LEGENDARIS TNI AU, SI COCOR MERAH

INILAH SI COCOR MERAH PESAWAT TEMPUR LEGENDARIS TNI ANGKATAN UDARA..

APAKAH nama pesawat tempur terhebat selama Perang Dunia II yang berasal dari Amerika? Orang pasti akan mengingat Si kuda Liar.
Itulah julukan pesawat P-51 Mustang yang banyak dipakai pada masa Perang Dunia II, yang dibuat oleh pabrik pesawat North American (sebelumnya bernama General Aviaton). Didesain pada tahun 1940 pada mesa kepemimpinan James Howard Kindelberger. Pesawat itu awalnya dibuat untuk memenuhi permintaan Kerajaan Inggris dalam memperkuat pertahanan udara (RAF), namun setelah mengetahui kehebatannya, AS kemudian memesan pesawat ini.
 Pesawat Buru Taktis ini mampu mengangkat beban seberat 7.000 Kg termasuk berat pesawat, kecepatan jelajah 735 Km/jam dan dipersenjatai dengan enam pucuk browning kaliber 12,7 mm, serta delapan buah roket launcher, dan dua buah bom. Pesawat ini berawak satu orang. Meski dirancang sebagai pesawat pengawal pembom jarak jauh, tampak dari kehandalan senjata dan kemampuanya membawa dua drop (bahan bakar tambahan) tidak menghalangi tugas utamanya untuk melakukan serangan udara yang mematikan.
 Di lingkungan TNI Angkatan Udara, P-51 Mustang telah melahirkan sejumlah penerbang hebat seperti Marsekal TNI Ramli dan Marsda TNI Leo Watimena.


Sejarah P-51 Mustang


Pesawat P-51 Mustang diperoleh dari penyerahan Militaire Luchvaart kepada Pemerintah Indonesia sekitar tahun 1950-an. Pesawat ini masuk dalam kekuatan Skadron Udara 3 dan kemudian menjadi salah satu kekuatan (pemburu) yang berpangkalan di Skadron Cililitan (sekarang Skdron Udara 3 berada di Madiun). Sebagai kekuatan Skadron Pemburu, Si Kuda Liar ini sering terlibat dalam operasi dan latihan menembak dari udara ke darat dan menembak dari udara ke udara.
Berbagai Operasi
Banyak jasa yang telah diberikan oleh Si Cocor Merah (julukan lain dari P-51 Mustang), berupa dukungan pasukan darat, laut dalam berbagai operasi. Beberapa operasi udara yang pernah dilakukan oleh pesawat P-51 Mustang ini adalah Operasi Tegas di Sumatera tahun 1955 dalam penumpasan separatis PRRI/Permesta.

 Operasi lainya meliputi Operasi Sapta Marga di Medan 1958 bertugas membebaskan Medan dan sekitarnya. Pada tanggal 17 Maret melaksanakan penyerbuan terhadap kedudukan pemberontak PRRI. Operasi 17 Agustus dengan tujuan membebaskan kota Pekanbaru dan Padang 1958, AURI menyiapkan hingga 40 pesawat yang merupakan hampir dari seluruh kekuatan yang dipusatkan di Pangkalan Udara Tanjung Pinang.

Operasi Merdeka di Manado 1958, AURI menggelar operasi dengan \"menidurkan\" Radio Permesta di Manado, merebut keunggulan udara di Mapanget, Tasuka, Morotai, dan Jailolo. Operasi Trikora di Irian Barat dalam rangka membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Dalam Operasi Trikora ini disiapkan tujuh pesawat P-51 Musteng sebagai unsur serang pertahanan udara. Operasi Dwikora di Jakarta 1964, Indonesia dihadapkan dengan pilihan politik untuk menyiapkan P-51 Mustang untuk menghadapi negara Jiran Malaysia. Operasi Sambar Kilat di Kalimantan Barat 1966 dalam menumpas G-30/PKI yang menamakan dirinya PGRS/Paraku.

 Pada awal tahun 1970-an pesawat P-51 Mustang ini dinyatakan grounded, dikarenakan usianya yang sudah tua, dan sukucadangnya yang langka. Pesawat ini pernah menunjukkan kebolehannya dalam demonstrasi terbang lintas, bersama-sama pesawat masa itu pada peringatan Hari ABRI tahun 1985 di Kemayoran, Jakarta. Sekitar 20 tahun masa pengabdianya di AURI, pesawat ini telah banyak mewarnai sejarah dan perjuangan TNI AU dalam melaksanakan tugasnya sebagai pertahanan udara di wilayah NKRI.

Agar generasi selanjutnya dapat mengenang pesawat yang pernah merajai wilayah udara Indonesia, kini Si Cocor Merah dijadikan sebagai monumen yang dibangun di Museum Hidup TNI AU Amerta Dirgantara Mandala Kalijati, di halaman depan Mabes TNI AU Cilangkap, pintu masuk Lanud Halim Perdanakusuma serta di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

JEJAK PESAWAT SI COCOR MERAH

Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan titik  kulminasi dari perjuangan  bangsa Indonesia, yang berarti bahwa sejak saat itu bangsa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat dan bebas menentukan nasibnya sendiri dalam suatu kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun pernyataan kemerdekaan yang diproklamirkan tersebut, bukanlah akhir dari perjuangan bangsa Indonesia, karena Kolonial Belanda baru mengakui kedaulatan Negara Indonesia pada 27 Desember 1949 sebagai tindak lanjut dari keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda tanggal 23 Agustus – 2 November 1949 yang memaksa Pemerintah Belanda  mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS).   Pengakuan kedaulatan ini kemudian ditandai dengan penyerahan kekuasaan, baik sipil maupun militer kepada bangsa Indonesia.   Salah satu fasilitas militer yang diserahkan adalah penyerahan pangkalan-pangkalan udara beserta fasilitasnya, yang dilaksanakan secara bertahap dan sebagai puncaknya adalah penyerahan Markas Besar Penerbangan Militer Belanda atau Hoofd Kwartier Militaire Luchtvaart (HKML) di Jalan Merdeka Barat Nomor 8 Jakarta Pusat kepada Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS) tanggal 27 Juni 1950.
 Dengan telah diserahkannya seluruh fasilitas Militaire Luchtvaart (ML) kepada Pemerintah Indonesia, maka sejak saat itu AURI sudah memiliki kekuatan udara dengan berbagai macam jenis pesawat, diantaranya adalah pesawat tempur P-51D Mustang buatan Amerika Serikat, yang kemudian melalui Surat Keputusan KSAU Nomor 28/II/KS/51 tanggal 21 Maret 1951, P-51 Mustang ditempatkan di Skadron 3 Pemburu Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta dan selanjutnya dipindahkan ke Lanud Abdulrachman Saleh, Malang pada 17 Juli 1962 dibawah Wing Operasional 002 Taktis.

P-51 Mustang adalah pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal pada era perang dunia ke dua.  Mustang menjadi satu-satunya pesawat tempur yang mampu melangsungkan serangan secara mandiri maupun melaksanakan tugas pengawalan terhadap pesawat pengebom.  Karena kehandalannya, Mustang diproduksi ribuan dan digunakan oleh banyak angkatan udara, termasuk Indonesia.  Meskipun saat itu Indonesia menerima Mustang sebagai hibah dari Belanda, namun Mustang telah menjadi tulang punggung AURI dalam menjalankan berbagai operasi militer diwilayah NKRI, bahkan mustang digunakan Indonesia untuk melawan Belanda dan sekutunya dikemudian hari.
Untuk mengawaki pesawat P-51D Mustang yang diserahkan tersebut, AURI mendatangkan para instruktur dari negara asal pesawat maupun instruktur-instruktur yang sebelumnya merupakan personel Militaire Luchtvaart.  Latihan yang dilaksanakan berupa penembakan udara ke darat dan dari udara ke udara, dengan menggunakan peralatan seadanya.  Melalui latihan yang terus dilakukan, maka kemampuan dan keterampilan para penerbang tempur AURI semakin meningkat, sehingga mampu membentuk satu tim aerobatik dengan menggunakan pesawat tempur P-51D Mustang.

Pembentukan tim aerobatik TNI Angkatan Udara yang pertama ini berawal dari latihan formasi pesawat yang dibimbing oleh salah satu instruktur penerbang dari Amerika Serikat bernama Leo Nooms.  Latihan yang diberikan adalah Red Race, kemudian formasi String, yaitu terbang berurutan lurus ke belakang, dengan instruktur di depan dan diikuti oleh penerbang di belakangnya.  Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai tingkat mahir.
Kemudian dilanjutkan latihan terbang formasi dengan dua pesawat, tiga sampai empat pesawat, dengan masing-masing pesawat saling berdekatan untuk melakukan gerakan bersama.  Semua latihan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sempurna, sehingga mendorong Leo Wattimena, Roesmin Noerjadin, Ignatius Dewanto, Mulyono, Hadi Sapandi dan Pracoyo, untuk membentuk tim aerobatik kebanggaan AURI pada waktu itu.


Tim aerobatik P-51D Mustang berlatih disela-sela kegiatan operasi, sehingga tim ini tidak pernah muncul di depan publik, bahkan salah satu penerbangnya yaitu Mulyono, gugur dalam kecelakaan aerobatik di Surabaya dalam rangka atraksi di Kota Surabaya pada 12 April 1951.    Meskipun tim aerobatik P-51D Mustang tidak pernah tampil di depan umum dan tidak memiliki nama khusus seperti tim-tim aerobatik TNI Angkatan Udara lainnya, namun tim ini telah menjadi inspirasi bagi penerbang-penerbang AURI berikutnya untuk membentuk tim aerobatik sejenis, sehingga tim aerobatik P-51D Mustang dapat dikatakan sebagai perintis atau the pioneer dari tim-tim aerobatik kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.
Sejak diterima AURI, berbagai operasi telah dijalankan P-51 Mustang, seperti Operasi Tegas di Sumatera pada 1955,  Operasi Sapta Marga di Medan pada 1958, Operasi 17 Agustus di Padang dan Pekanbaru pada 1958, Operasi Merdeka di Manado pada 1958, Operasi Trikora pada 1960-an, Operasi Dwikora pada 1964 dan Operasi Sambar Kilat di Kalimantan Barat pada 1966.
Pada awal tahun 1970-an pesawat P-51 Mustang atau lebih dikenal dengan julukan “Si Cocor Merah” ini dinyatakan grounded, dikarenakan usianya yang sudah tua, dan suku cadangnya yang langka.